PNI (Partai Nasional Indonesia)
Sejarah
Berdirinya Partai Nasional Indonesia
Nama-nama tokoh pendiri Partai Nasional Indonesia
1.
Dr. Tjipto Mangunkusumo
2.
Mr. Sartono
3.
Mr Iskaq Tjokrohadisuryo
4.
Mr Sunaryo
5.
Soekarno
6.
Moh. Hatta
7.
Gatot Mangkuprojo
8.
Soepriadinata
10.
Amir Sjarifuddin
11.
Wilopo
12.
Hardi
13.
Suwiryo
16.
Mohammad Isnaeni
17.
Supeni
PNI semakin menunjukkan pengaruhnya dalam melawan
penjajahan pada saat itu. Tahun 1927, PNI membentuk sebuah badan koordinasi
dari berbagai macam aliran untuk menggalang kesatuan aksi melawan penjajahan.
Badan tersbut diberi nama PPPKI atau permufakatan perhimpunan politik
kebangsaan Indonesia.
Selanjutnya pada tahun 1929 PNI melakukan kongres dan
menetapkan bendera partai yang bergambar kepala banteng dan mencetuskan
cita-cita sosialisme dan semangat non kooperasi. Berita ini pun mulai memicu
reaksi dari pemerintahan kolonial Blanda. Muncul berita provokatif yang
mengatakan bahwa PNI akan melakukan pemberontakan. Demi mengantisipasi berita
tersebut Pemerintah Belanda menangkap para pemimpin PNI yakni Ir. Soekarno,
Gatot Mangkupraja, Maskun dan Suriadinatya. Kemudian ke empat tokoh tersebut di
sidangkan di pengadilan bandung pada tahun 1930.
Dalam persidangan itu Ir. Soekarno mengajukan
pembelaan dengan menyampaikan pidato yang berjudul Indonesia Menggugat. Hakim pada
saat itu adalah Mr. Dr. R. Siegembeek van Hoekelen sedang pembela para tokoh
Indonesia adalah Sartono SH, Sastromuljono SH, dan Idik Prawiradiputra SH.
Namun karena lemahnya posisi bangsa Indonesia pada saat itu ke empat tokoh itu
dinyatakan bersalah dan pengadilan negeri Bandung menjatuhkan hukuman pidana
kepada Ir. SOekarno dengan 4 tahun penjara, Maskun 2 tahun penjara, Gatot
Mangkupraja 1 tahun 8 bulan penjara, dan Suriadinata 1 tahun 3 bulan penjara.
Yang menjadi dasar dari perjuangan PNI adalah sosionasionalis
dan sosiodemokratis atau disingkat dengan istilah yang hingga kini masih kita
kenal dengan marhaenisme. PNI benar-benar memisahkan diri dari pemerintahan
kolonial belanda dengan menyatakan semangan non kooperasinya dalam kongres
1929. Sikap ini sama dengan gerkan pemuda Indoesia yang ada di Belanda
Perhimpunan Indonesia, (baca sejarah perhimpunan Indoensia). Keduanya pun
memiliki hubungan yang sangat erat dimana sekembalinya para pemuda yang
tergabung di perhimpunan Indonesia mereka kemudian melebur dan bergabung dengan
Partai nasional Indonesia.
Algemene Studie Club di
Bandung yang didirikan oleh Ir. Soekarno pada
tahun 1925 telah mendorong para pemimpin lainnya untuk mendirikan partai
politik, yakni Partai Nasional Indonesia ( PNI). PNI didirikan di Bandung pada
tanggal 4 Juli 1927 oleh 8 pemimpin, yakni dr. Cipto Mangunkusumo, Ir.Anwari, Mr. Sartono, Mr. Iskak, Mr. Sunaryo, Mr. Budiarto, Dr. Samsi, dan Ir.
Soekarno sebagai ketuanya. Kebanyakan dari mereka adalah mantan anggota
Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda yang baru kembali ke tanah air.
Keradikalan PNI telah tampak sejak awal berdirinya. Hal ini terlihat dari
anggaran dasarnya bahwa tujuan PNI adalah Indonesia merdeka dengan strategi
perjuangannya nonkooperasi. Untuk mencapai tujuan tersebut maka PNI berasaskan pada self help, yakni prinsip menolong diri sendiri, artinya memperbaiki keadaan politik, ekonomi, dan sosial budaya yang telah rusak oleh penjajah dengan kekuatan sendiri; nonkooperatif, yakni tidak mengadakan kerja sama dengan pemerintah Belanda; Marhaenisme, yakni mengentaskan massa dari kemiskinan dan kesengsaraan.
tahun 1925 telah mendorong para pemimpin lainnya untuk mendirikan partai
politik, yakni Partai Nasional Indonesia ( PNI). PNI didirikan di Bandung pada
tanggal 4 Juli 1927 oleh 8 pemimpin, yakni dr. Cipto Mangunkusumo, Ir.Anwari, Mr. Sartono, Mr. Iskak, Mr. Sunaryo, Mr. Budiarto, Dr. Samsi, dan Ir.
Soekarno sebagai ketuanya. Kebanyakan dari mereka adalah mantan anggota
Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda yang baru kembali ke tanah air.
Keradikalan PNI telah tampak sejak awal berdirinya. Hal ini terlihat dari
anggaran dasarnya bahwa tujuan PNI adalah Indonesia merdeka dengan strategi
perjuangannya nonkooperasi. Untuk mencapai tujuan tersebut maka PNI berasaskan pada self help, yakni prinsip menolong diri sendiri, artinya memperbaiki keadaan politik, ekonomi, dan sosial budaya yang telah rusak oleh penjajah dengan kekuatan sendiri; nonkooperatif, yakni tidak mengadakan kerja sama dengan pemerintah Belanda; Marhaenisme, yakni mengentaskan massa dari kemiskinan dan kesengsaraan.
Untuk mencapai tujuan
tersebut, PNI telah menetapkan program kerja
sebagaimana dijelaskan dalam kongresnya yang pertama di Surabaya pada tahun
1928, seperti berikut.
sebagaimana dijelaskan dalam kongresnya yang pertama di Surabaya pada tahun
1928, seperti berikut.
- Usaha politik, yakni memperkuat rasa kebangsaan (nasionalisme) dan kesadaran atas persatuan bangsa Indonesia, memajukan pengetahuan sejarah
kebangsaan, mempererat kerja sama dengan bangsa-bangsa Asia, dan menumpas segala rintangan bagi kemerdekaan diri dan kehidupan politik. - Usaha ekonomi, yakni memajukan perdagangan pribumi, kerajinan, serta
mendirikan bank-bank dan koperasi. - Usaha sosial, yaitu memajukan pengajaran yang bersifat nasional, meningkatkan derajat kaum wanita, memerangi pengangguran, memajukan
transmigrasi, memajukan kesehatan rakyat, antara lain dengan mendirikan
poliklinik.
Untuk
menyebarluaskan gagasannya, PNI melakukan propaganda-propaganda, baik lewat surat kabar,
seperti Banteng Priangan di Bandung dan Persatuan
Indonesia di Batavia, maupun lewat para pemimpin khususnya Ir. Soekarno sendiri. Dalam waktu singkat, PNI telah
berkembang pesat sehingga menimbulkan
kekhaw-tiran di pihak pemerintah Belanda. Pemerintah kemudian memberikan peringatan kepada pemimpin PNI agar menahan diri dalam
ucapan, propaganda, dan tindakannya.
ucapan, propaganda, dan tindakannya.
Propaganda PNI di tahun
1920-an
- 1927 - Didirikan di Bandung oleh para tokoh nasional seperti Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr Iskaq Tjokrohadisuryo dan Mr Sunaryo. Selain itu para pelajar yang tergabung dalam Algemeene Studie Club yang diketuai oleh Ir. Soekarno turut pula bergabung dengan partai ini.
- 1928 - Berganti nama dari Perserikatan Nasional Indonesia menjadi Partai Nasional Indonesia
- 1929 - PNI dianggap membahayakan Belanda karena menyebarkan ajaran-ajaran pergerakan kemerdekaan sehingga Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah penangkapan pada tanggal 24 Desember 1929. Penangkapan baru dilakukan pada tanggal 29 Desember 1929 terhadap tokoh-tokoh PNI di Yogyakarta seperti Soekarno, Gatot Mangkupraja, Soepriadinata dan Maskun Sumadiredja
- 1930 - Pengadilan para tokoh yang ditangkap ini dilakukan pada tanggal 18 Agustus 1930. Setelah diadili di pengadilan Belanda maka para tokoh ini dimasukkan dalam penjara Sukamiskin, Bandung. Dalam masa pengadilan ini Ir. Soekarno menulis pidato "Indonesia Menggugat" dan membacakannya di depan pengadilan sebagai gugatannya.
- 1973 - PNI bergabung dengan empat partai peserta pemilu 1971 lainnya membentuk Partai Demokrasi Indonesia.
- 1999 - PNI menjadi peserta pemilu 1999.
- 2002 - PNI berubah nama menjadi PNI Marhaenisme dan diketuai oleh Sukmawati Soekarno, anak dari Soekarno.
Dengan
munculnya isu bahwa PNI pada awal tahun 1930 akan mengadakan pemberontakan maka pada tanggal 29 Desember 1929, pemerintah Hindia Belanda mengadakan penggeledahan secara besar-besaran dan menangkap empat pemimpinnya,
yaitu Ir. Soerkarno, Maskun, Gatot
Mangunprojo dan Supriadinata. Mereka
kemudian diajukan ke pengadilan di Bandung.
Dalam
sidang pengadilan, Ir. Soerkarno mengadakan pembelaan dalam judul Indonesia Menggugat.
Atas dasar tindakan melanggar Pasal "karet" 153 bis
dan Pasal 169 KUHP, para pemimopin PNI dianggap mengganggu ketertiban umum dan menentang kekuasaan Belanda sehingga dijatuhi hukuman penjara di Penjara Sukamiskin Bandung. Sementara itu, pimpinan PNI untuk sementara dipegang oleh Mr. Sartono dan dengan pertimbangan demi keselamatan maka pada tahun 1931 oleh pengurus besarnya PNI dibubarkan. Hal ini menimbulkan pro- dan kontra. Mereka yang pro-pembubaran, mendirikan partai baru dengan nama Partai
Indonesia (Partindo) di bawah pimpinan Mr. Sartono. Kelompok yang kontra,
ingin tetap melestarikan nama PNI dengan mendirikan Pendidikan Nasional
Indonesia (PNI-Baru) di bawah pimpinan Drs. Moh. Hatta dan Sutan Syahrir.
dan Pasal 169 KUHP, para pemimopin PNI dianggap mengganggu ketertiban umum dan menentang kekuasaan Belanda sehingga dijatuhi hukuman penjara di Penjara Sukamiskin Bandung. Sementara itu, pimpinan PNI untuk sementara dipegang oleh Mr. Sartono dan dengan pertimbangan demi keselamatan maka pada tahun 1931 oleh pengurus besarnya PNI dibubarkan. Hal ini menimbulkan pro- dan kontra. Mereka yang pro-pembubaran, mendirikan partai baru dengan nama Partai
Indonesia (Partindo) di bawah pimpinan Mr. Sartono. Kelompok yang kontra,
ingin tetap melestarikan nama PNI dengan mendirikan Pendidikan Nasional
Indonesia (PNI-Baru) di bawah pimpinan Drs. Moh. Hatta dan Sutan Syahrir.
Travelz Titanium Headsets - TITanium Rocks
BalasHapusTravelz Titanium Headsets ti 89 titanium calculator have great sound! ford escape titanium for sale They have very solid sound but a titanium welding very close-end titanium band ring quality headset. titanium bolt They have a premium build
cf039 asics romania,asics mujer,mizuno futócipő,gymshark madrid,asics sneaker,keds mujer,keen sko,caterpillarscarpe,gymsharktayt yc179
BalasHapus